-
Prestasi…Prestasi
Kalau pada usia 1-3 tahun, balita sedang mengalami masa autonomy vs shame and doubt, pada usia 6-12 tahun, atau kira-kira di masa SD, anak kita sedang berada dalam masa Industri vs Inferiority, menurut pakar psikologi, Erik Erikson.
Masa ini artinya, anak membutuhkan prestasi atau keberhasilan agar ia dapat memupuk rasa percaya dirinya. Sedangkan bila gagal, atau ia tidak mempunyai prestasi apa-apa, maka ia akan tumbuh menjadi seseorang yang inferior, atau merasa rendah diri.
Masalahnya, prestasi apa yang harus dicapai mereka saat ini? Apakah harus juara kelas?
Maksud dari prestasi tidak selalu terbatas hanya dengan juara pertama. Prestasi artinya sebuah pencapaian atas sebuah usaha, yang juga dihargai sesuai dengan tempatnya. Jadi anak kita harus berusaha untuk mencapai hal tersebut.
Pernah seorang teman saya bercerita bahwa anak orang tua teman anaknya yang membuatkan PR anaknya, supaya PR nya mendapatkan nilai yang baik. Ia juga sempat menuliskan hapalan dibalik gambar yang harus ditunjukkan anaknya di depan kelas. Alasannya, tentu saja supaya anaknya mendapatkan nilai yang baik. Tapi, apakah itu adalah prestasi? Bukan, pastinya. Nilai yang bagus harus didapat dengan usaha, itu baru namanya prestasi. Sama seperti anak saya, Alyssa, pernah bertanya, “mama, aku gak belajar, tapi dapat nilai bagus. Jadi aku gak usah belajar ya?” Saya pun menjawab, “Alyssa, kalau kamu tidak belajar saja dapat nilai bagus, bagaimana kalau belajar?” Bagaimana kalau sudah belajar tapi nilainya kurang bagus? Tidak apa-apa, justru dari situ kita bisa melihat, apa masalah anak kita.
Dalam hal prestasi ini, satu hal yang harus kita ingat adalah, prestasi pada masa SD sama sekali bukan berarti juara kelas. Hanya ada 1 juara kelas di tiap kelas (di sekolah anak saya, tidak ada ranking, jadi kita tidak pernah tahu, siapa juara 1nya), jadi bagaimana nasib puluhan anak lainnya?
Seorang teman saya yang berasal dari Korea berkata bahwa di Korea, hasil ulangan diumumkan ke seluruh kelas. Bayangkan bagaimana rasanya bila kita mendapat nilai yang kurang baik. Akhirnya ia memutuskan untuk sekolah di Amerika Serikat.
Prestasi atau pencapaian seorang anak di sekolah dasar haruslah sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya. Di sinilah peran tes IQ, bakat dan kepribadian. Dari pencapaian sekolah dan tes bakat, misalnya, saya tahu bahwa Alyssa mempunyai kemampuan artistik yang baik, bahasa juga baik, namun matematika dan kinestetiknya kurang baik. Yang saya lakukan adalah saya menuntut Alyssa untuk mendapatkan nilai yang baik di bahasa, seperti bahasa Inggris dan Indonesia. Sementara untuk bahasa Mandarin? Yah, yang penting dia ikut les dan nilainya tidak merah, karena di rumah memang tidak ada yang bisa berbicara dengan bahasa tersebut. Rencananya adalah bila Alyssa sudah cukup besar, saya akan mengirimnya ke Cina atau Taiwan untuk belajar bahasa. Sementara untuk matematika? Les sajalah, terutama sebelum ulangan. Kalau saya lihat dia sudah belajar dengan baik, nilai 70 pun OK untuk saya. Olah raga pun tidak terlalu saya paksakan, yang penting dia berolah raga dan mempunyai aktifitas fisik. Uniknya, walaupun bakat musikalnya baik, karena kinestetiknya kurang, maka Alyssa kurang cepat juga belajar alat musik. Yah, yang penting dia latihanlah.
Untuk cita-citanya, Alyssa saat ini ingin menjadi designer, katanya. Kemampuan menggambarnya pun baik. Jadi saya meminta seorang guru gambar, yang pelukis, untuk mengajarkan Alyssa melukis, bukan menggambar. Artinya, ia harus bisa benar-benar melukis, untuk menunjang minatnya. Hasilnya? Minggu lalu ia menghasilkan lukisan yang bagus, yang akan kami bingkai. Saya pun memesan sebuah lukisan yang mirip tapi lebih besar, untuk saya pajang di tempat praktek saya.
Prestasi di masa ini, haruslah sesuai dengan minat dan bakat anak. Inilah saat yang paling tepat bagi anak untuk mengembangkan kemampuannya tersebut. Bayangkan bila pada saat ini, anak kita hanya sibuk les pelajaran sekolah. Memang nilai pelajaran bisa meningkat, tapi apakah peningkatannya signifikan? Yang mana yang penting bagi hidupnya kelak? Pilihlah kegiatan yang paling sesuai untuk anak pada saat ini. Yang pasti semua kegiatannya harus bertujuan menyediakan prestasi bagi mereka. Menghasilkan sebuah karya yang dapat mereka banggakan, entah di bidang akademik, seni, olah raga atau bidang positif apapun yang sudah diberikan Tuhan pada mereka.
ABOUT ME
CONTACT US
THERAPY CENTERS
PSYCHOLOGICAL DIAGNOSIS
INFO
LATEST ARTICLES
- Love That Makes Us a Better Person
- Put a Meaning Into Your Life
- Our Teenager n Their Sex Life
- Children Adjustment at School (On air @ Cosmopolitan 90.4FM on 8th Feb 2011)
- Intermed Anniversary Talkshows

Tidak ada komentar:
Posting Komentar